Trollface / Problem? / Coolface  - Rage Face Comics
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

mengakui kekurangan diri sendiri

Awal malapetaka dan kehancuran seseorang terajdi ketika penyakit sombong dan merasa diri paling benar berasemayamm dalam hatinya inilah sifat iblis yang berusaha ditransfer kepada manusia yang bersedia menjadi sekutunya. Sifat ini ditandai dengan ketidaksapan untuk menerima kebenaran yang dating dari pihak lain; keengganan melakukan introspeksi diri (muhasabbah); serta sibuk melihat aib dan kesalahn orang lain tanpa mau melihat aib diri sendiri. Padahal, kebaikan hanya bias terwujud manakala seseorang bersikap tawadhu/rendah hati; mau menyadari dan mengakui kekurangan diri sendiri; melakukan inrospeksi; serta siap menerima kebenaran dari siapapun dan darimanapun. Sikap seperti ini sebagaimana dicontohkan oleh orang-orang mulia dari para nabi dan rasul. Nabi Adam AS dan Siti Hawa saat melakukan kesalahan dan melanggar larangan tuhan, alih-alih sibuk menyalahkana iblis yang telah menggoda dan memberikan janji dusta, mereka malah langsung bersimpuh mengakui kealpaan seraya berkata “Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”(QS Al-A’raf[7]:23). Demikian pula dengan nabi Yunus AS saat berada dalam gelapnya perut ikan di tengah lautan. Ia tidak menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri, seraya terus bertasbih menyucikan TuhanNya . Ia berkata, “tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-Anbiya [21]:87). Bahkan Nabi Muhammad SAW selalu membaca Istighfar dan meminta ampunan kep[ada Allah SWT sebagai bentuk kesadaran yang paling tinggi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu ia harus selalu melakukan instrospeksi. Beliau bersabda, “wahaimanusia, bertobatlah dan minta ampunan kepadaNya. Sebab aku bertobat sehari semalam sebanyak 100 kali.”(HR muslim). Begitulah sikap arif para nabi yang patutu dijadikan teladan. Mereka tidak merasa diri mereka sudah sempurna, bersih, dan suci. Allah SWT berfirman, “janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS annajm [53]:32). Karena itu, daripada mengarahkan telunjuk kepaada orang lebih baik mengarahkan telunjuk kepada diri sendiri. Daripada siuk melihat aib orang, alangkah bijaknya jika kita sibuk melihat aib diri sendiri. Dalam Musnad Anas Ibn Malik RA, Nabi SAW bersabda,” Beruntunglah orang yang sibuk melihat aib dirinya, sehingga tidak sibuk melihat aib orang lain.” sumber republika

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar